illustrated by @talkingtothewalls

Kami menjuluki Ipoh sebagai “Kota di Antara” karena diapit Kuala Lumpur dan Penang. Ibarat si Anak Tengah, ia sering kali tak menjadi perhatian utama. Namun, si Anak Tengah biasanya selalu tahu bagaimana terlihat tanpa perlu mencolok atau memaksakan diri untuk dilihat. Ia selalu punya hal-hal mengejutkan yang membuat orang menoleh lantas mengingatnya.

Begitulah Ipoh di mata kami.

Didorong oleh rasa penasaran karena beberapa publikasi internasional yang belakang menyebut Ipoh sebagai salah satu destinasi terbaik di Asia, tim I Was Here memutuskan menyambangi si Anak Tengah secara khusus. Namun, untuk mengenalnya lebih baik, kami memerlukan bantuan para ahli. Dan tak ada ‘ahli’ yang lebih terpercaya selain kawan lokal.


Kota Kuliner

“Biasanya para wisatawan makan di sana, aku tidak tahu kenapa. Tapi, orang Ipoh lebih suka makan di sini. Menurutku rasanya juga lebih enak,” kata Kuan Ju—biasa dipanggil KJ—seorang blogger pariwisata asal Malaysia yang dibesarkan di Ipoh. Kami saat itu sedang berdiri di tengah persimpangan trotoar yang sibuk ketika KJ menunjuk dua rumah toko yang menjual salah satu kuliner andalan Ipoh, taugeh chicken—ayam tauge atau nga choy kai dalam bahasa Kanton. Sesuai dengan namanya, hidangan lokal ini memang berupa ayam dan kecambah yang disajikan dalam piring berbeda.

“Kalau tidak bersamamu, bagaimana kami bisa membedakan kedua tempat ini?” gumam saya. KJ tertawa kecil mendengarnya. Bisa mengikuti selera lokal lewat lidah KJ adalah hal yang membuat perjalanan kami terasa beda. Apalagi KJ tidak sekadar mencicipi hampir semua kuliner otentik di Ipoh tetapi juga menuliskannya sehingga bisa menjadi referensi kuliner bagi siapa pun yang ke Ipoh. “Tak ada yang salah dengan mengunjungi tempat-tempat makan yang popular di kalangan wisatawan, kok,” timpal KJ.

Setelah mencicipi dada ayam dalam rebusan saus kecap sederhana dan mengunyah kecambah segar dan renyah—kabarnya tak ada yang bisa menandingi kesegaran dan kerenyahan tauge Ipoh—seperti pesanan di hampir semua meja, kami pun mengimani KJ. Kepuasaan yang didapat sejak suapan pertama meyakinkan kami untuk tak perlu mencoba restoran lain, meskipun letaknya tak lebih dari 10 meter.


Kota Seni

Ipoh seperti kota dalam permainan monopoli. Begitu mudah kita berpindah dari satu blok ke blok lainnya, mencoba satu tempat makan lalu loncat ke tempat makan lainnya, terutama yang terletak di jantung kota. Kota ini ramah untuk pejalan kaki dengan jarak dan waktu tempuh yang bisa diperhitungkan.

Bagi pencinta arsitektur dan kota-kota tua, setiap bangunan Ipoh seperti merentangkan cerita soal waktu. Ipoh melestarikan fasad-fasad bangunan tua bergaya kolonial Inggris yang diselingi jajaran rumah toko beronamen Peranakan dan Tionghoa. Dinding lorong-lorongnya adalah kanvas besar yang menjadi media bercerita untuk dinikmati penduduknya sendiri ataupun wisatawan.

“Saya biasanya datang ke pusat kota dan mengagumi muralnya juga,” kata seorang penduduk lokal kepada saya. Kami sedang bersama-sama mengagumi sebuah tembok panjang dipenuhi mural warna-warni. Di sela-sela waktunya menjemput sang istri yang bekerja di pusat kota, laki-laki itu sering menyempatkan diri berjalan-jalan mengagumi mural-mural yang tersebar di penjuru kota.

Bukan rahasia kalau Ipoh adalah sebuah kota seni. Di samping rumah toko-rumah toko yang cantik dan masih terawat, Ipoh juga sebuah gudang seni, terutama mural.

“Umumnya generasi sekarang tidak terlalu tahu tentang sejarah Ipoh. Jadi ketika mereka terlibat untuk menggambar mural, mereka sendiri sebenarnya belajar,” jelas Chen Chun Yao, dosen seni lokal di Ipoh. Ernest Zacharevic, gara-gara memurali Penang, diminta juga memurali kota Ipoh. Ernest terkenal bukan tanpa alasan. Lukisan-lukisan dindingnya impresif, memberikan identitas kepada setiap kota yang digambarinya. Namun, Ernest bukan satu-satunya artis yang mengguratkan warna di Ipoh. Tidak hanya menggambar dinding kota, Chen Chun Yao bahkan menata cerita sejarah kota yang bisa kita lihat di sebuah lorong di Ipoh. Dinding ini menjadi media mendongeng dan menyuarakan aspirasi seniman lokal, seolah mendukung Ipoh sebagai kota yang memang seharusnyalah dinikmati pelan-pelan dengan berjalan kaki.

Cerita tak berhenti di sini. Bukankah si Anak Tengah selalu mengejutkan?


Kota Antik Eksentrik

Rasa ingin tahu mengarahkan kami ke pinggiran kota, merayapi tebing-tebing limestone yang menjulang. “Aku sendiri belum pernah ke sana dan penasaran. Kalian mau ke sana bersamaku?” Pertanyaan KJ inilah kompas kami menemukan kejutan lain yang disembunyikan Ipoh.

Di bebatuan karst, di sanalah bukti otentik terpatri. Bahwa ‘nyeni’ memang identitas Ipoh. Tinta bukan hal yang asing bagi nenek moyang mereka dan kejelian mata terhadap seni adalah bakat temurun yang mengalir dalam darah.

Ipoh memantapkan reputasinya; tidak berteriak minta perhatian tetapi memikat orang dengan caranya sendiri. Setelah sensasi Penang dan kota urban Kuala Lumpur, orang-orang mulai mencari sesuatu yang lain, mencari ketenangan si Anak Tengah. Ada kabar burung terdengar bahwa pengembangan taman hiburan secara besar-besaran akan segera dilakukan. Harapannya ini bisa menarik lebih banyak wisatawan. Hal tersebut menjadi perdebatan tersendiri di kalangan penduduk lokal. Faktanya, para wisatawan telah mendatangi Ipoh sehingga orang kesulitan memarkir kendaraan.

Foodie, vintage, and artsy by heart adalah Ipoh. Siapa yang sanggup mengubah seorang anak tengah yang unik-eksentrik? Bukankah kita semua diam-diam cenderung mengikutinya?

Tunggu cerita lengkapnya!


Terima kasih Panorama Tours telah percaya dan mau berkolaborasi dalam 'cerita ipoh' yang menjadi langkah awal perjalanan kami.